Islamic memandang agama Islam dari sudut pandang

Islamic Mysticism

Tasawwuf, Sebuah Pendekatan Studi
Islam

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Ahmad Dzikri Alhikam, BS1, Dr. Fisher Zulkarnaen, MA2

Pacasarjana Sejarah Kebudayaan Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Gunung Djati Bandung

Jl. Soekarno-Hatta Kel. Cimincrang, Kec. Gedebage, Bandung Jawa Barat

 

ABSTRAK

Islam datang
1400 tahun yang lalu dengan ajarannya yang luruh dan komprehensif. Allah swt
sebagai pembuat hukum dan pengatur alam semesta dan seisisinya adalah ajarah
yang dibawakan oleh nabi Muhammad saw dengan mengesakan dan mentauhidkan-Nya.
Demikian pula Rasulullah saw sebagai sentral figur umat manusia beliau telah
mengajarkan berbagai macam hal dalam aspek kehidupan, mulai dari kesolehan
ritual dan kesolehan sosial. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman
maka segala yang dilakukan oleh Rasul bisa menjadi sumber hukum, rujukan dalam
beragama serta contoh teladan dalam keseharian, hal demikian karena Allah swt
menjamin bahwa segala yang diucapkan dan dilakukan oleh nabi saw bukan
berdasarkan nafsu belaka melainkan wahyu ilahi. Dari sana lahirlah berbagai
macam kajian seperti ilmu tafsir, hadits, fiqh, tasawwuf dan lain sebagainya.
Diantara pendekatan studi dalam Islam adalah kajian tasawwuf yang telah dikaji
secara khusus sejak abad ke 2 hijriah, meskipun demikian ajaran tentang zuhud
dan sufisme dalam Islam sebenarnya sudah ada sejak zaman nabi Muhammad dan
dicontohkan oleh beliau sendiri dan para sahabat radiyallahu anhum.
Tulisan ini secara singkat menguraikan tentang pengertian tasawwuf dalam islam,
masa perkembangannya, serta tingkatan atau maqamat dalam tasawwuf Islam
yang berbeda dengan ajaran agama lain. Metode yang digunakan adalah metode
penelitian menggunakan literatur klasik dan modern, sehingga diperoleh
kesimpulan bahwa dalam Islam memiliki sebuah pendekatan yaitu tasawwuf yang
coraknya berbeda dengan kajian sufi dalam agama lain seperti Kristen, hindu dan
budha Maka hal demikian memperluas khazanah dan keilmuan Islam yang bersumber
dari Nabi Muhammad yang kemudian dijadikan sebuah pendekatan dan studi khusus
dalam Islam.

 

KATA KUNCI : Tasawwuf, Studi Islam, Sufistik

 

PENDAHULUAN

            Islam adalah agama
universal, yang meliputi segala aspek kehidupan manusia baik dalam kehidupan
sosial maupun interaksi secara ritual kepada sang dzat yang maha kuasa. Islam
sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit seperti yang
dipahami oleh masyarakat Islam itu sendiri pada umumnya. Dalam sejarah terlihat
bahwa Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah dapat
berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat luas. Oleh karena itu agama islam
kerap ditinjau oleh beragam manusia dengan menggunakan aspek dan prespektif
masing-masing. Segelintir orang ada yang memandang agama Islam dari sudut
pandang normatif, sehingga apa yang ia simpulkan adalah qalallah dan qalarrasul,
Ada yang melihat dan mengimplementasikan Islam dari kaca mata fiqh, sehingga
selalu melihat dalam perkara agama itu adalah perkara halal dan haram, sunnah,
makruh, kemudian sekelompok orang ada yang merasa kurang puas dalam beragamanya
apabila hanya melakukan ibadah yang bersifat ritual dan vertikal dengan
melaksanakan shalat, puasa, zakat serta ibadah haji.

            Manusia sebagaimana disebutkan Ibnu
Khaldun memiliki panca indera (anggota tubuh), akal pikiran dan hati sanubari3. Ketiga potensi ini
harus bersih, sehat, berdaya guna dan dapat bekerja sama secara harmonis. Untuk
dapat menghasilkan kondisi seperti ini ada tiga bidang ilmu yang berperan
penting. Pertama fiqih, berperan dalam membersihkan dan menyehatkan
panca indera dan anggota tubuh. Istilah yang digunakan fiqih untuk pembersihan
dan penyehatan panca indera dan anggota tubuh ini adalah thaharah (bersuci). Kedua
filsafat, berperan dalam menggerakkan, menyehatkan dan meluruskan akal pikiran.
Karenanya filsafat banyak berurusan dengan dimensi metafisik dari manusia,
dalam rangka menghasilkan konsep-konsep yang menjelaskan inti tentang sesuatu. Ketiga
tasawuf, berperan dalam membersihkan hati sanubari. Karenanya tasawuf banyak
berurusan dengan dimensi esoterik (batin) dari manusia.

            Oleh karena itu ilmu tasawuf sangat
diperlukan dalam rangka membersihkan hati sanubari. Selain sebagai suatu sarana
dalam pembersihan hati sanubari tersebut, tasawuf juga merupakan metode
pendekatan diri kepada sang pencipta. Karenanya dibutuhkan berbagai pengetahuan
tentang tasawuf itu sendiri dan juga pembelajaran mengenai pembagian yang
mendalam mengenai tasawuf.

            Dari perbedaan sudut pandang dan prespektif
tersebut lahirlah berbagai disiplin ilmu keislaman, salah satunya adalah
tasawuf. Bagi umat Islam umumnya dan kaum cendekiawan khususnya, adalah
panggilan sejarah untuk terus mengembangkan dan menggali warisan intelektual dari
sisi sufistik. Maka kaum sufi mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan
Tuhan. dan jalan untuk itu diberikan oleh at-tasawwuf atau sufisme yang
mana istilah itu khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam Islam.

            Tujuan mistisisme dalam Islam, baik
yang di dalam maupun yang di luar Islam, ialah memperoleh hubungan langsung dan
disadari dengan tuhan, sehingga dapat disadari dengan benar bahwa seseorang
berada di hadirat tuhan. Intisari dari mistisisme, yang termasuk di dalamnya
tasawwuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia
dengan tuhannya, yaitu dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi.
Kesadaran itu selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan tuhan dalam
arti bersatu dengan tuhan yang dalam istilah arab disebut dengan al-ittihad dan dalam istilah inggris adalah mystical union4.

                Maka dari itu alangkah lebih baiknya jika kita ulas secara global
sebuah pendekatan pada studi Islam atau sebuah pandangan bagaimana seseorang
melihat agama Islam dari kaca mata sufistik di mulai dari asal muasal serta
pengertian sufi atau ilmu tasawwuf, sejarah kemunculannya dan perkembangannya,
tokoh-tokoh yang memiliki andil di dalamnya, serta pandangan orientalis
berkenaan dengan kajian ilmu tasawwuf Islam. sehingga menjadi sebuah pengantar
untuk menggali lagi disiplin ilmu yang kadang orang mengabaikannya di era gobal
dan milenial ini.

 

 

PEMBAHASAN

A.    Pengertian tasawwuf/ sufi.

            Secara
etimologi atau bahasa kata sufi memiliki beberapa arti, asal istilah tasawwuf
dapat merujuk kepada beberapa kata sebagai berikut:

a.       ???     artinya suci bersih. Dalam pengertian ini
orang  yang ingin dekat dengan Allah
SWT., aktifitasnya banyak diarahkan pada pensucian diri dalam rangka dekat
dengan Allah swt. Artinya Allah maha Suci tidak mungkin bisa didekati kecuali
oleh orang-orang yang memelihara kesucian. Bishr bin al-Harith berkata:”sufi
adalah orang yang hatinya suci/tulus kepada Allah.

b.      ??  
artinya barisan atau barisan terdepan. Orang yang ingin dekat dengan
Allah, pasti sudah kuat imannya. Oleh karena itu selalu ada pada barisan
terdepan dalam hal ibadah.

c.       ??? ????? 
artinya penghuni serambi (masjid). Istilah ini disandarkan kepada orang
yang ingin selalu dekat dengan Allah SWT., maka mereka ikut juga hijrah dengan
Nabi dari Mekah ke Madinah. Di Madinah merreka tinggalnya di serambi masjid.

d.      ???     artinya wol, bulu binatang kasar. Orang
yang selalu dekat dengan Allah swa., hanya memakai alat berpakaian bulu
binatang yang kasar, domba, unta dan sebagainya, ini hanya pandangan saya
karena kaum sufi tidak mencirikan dirinya dengan memakai pakaian dari bulu.

e.        ????? ????????? Pendapat yang lain mengatakan bahwa istilah Tasawuf
derasal dari bahasa Yunani yaitu Sophos atau Shofia artinya hikmah atau  bijaksana. Pendapat ini  merupakan pendapat mayoritas  kaum orientalis. Ahli-ahli sofia adalah
orang  yang ahli  dalam filsafat atau kebijaksanaan.
Mereka  menambahkan  bahwa dalam 
tradisi Arab kata sofia  direduksi
menjadi kata shufiya  untuk
menunjukkan  kepada orang-orang  ahli ibadah dan ahli filsafat agama5.

 

            Dari
limat pendapat di atas, maka secara etimologis kata tasawuf lebih dekat dengan
kata ???. Sebagaimana pendapat Ibn Khaldun bahwa kata Sufi  merupakan kata  jadian dari kata Suf. Tapi perlu diingat,
bukan sekedar karena ia memakai pakaian yang terbuat dari kain bulu dan wol
kasar maka seseorang disebut sufi. Seseorang 
menggunakan wol hanya sebagai symbol kesucian, mereka menyiksa dan menekan
hawa nafsu dan berjalan di jalan Nabi, sehingga banyak dari para sufi itu
sendiri yang menisbatkan kepada pendapat tersebut seperti Siraj At-Thusi dalam
karangannya Al-Luma’6

            Beberapa
redaksi pendefinisian di atas memang agak sedikit berbeda, namun semuanya
menyimpulkan bahwa yang disebut Asbabun Nuzul adalah kejadian-kejadian
atau peristiwa-peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat al-Qur’an.
Turunnya ayat al-Qur’an kepada Rasul tersebut dalam rangka menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Rasul, menjelaskan dan menyelesaikan
masalah-masalah yang timbul dari kejadian-kejadian tersebut. Asbab al-Nuzul merupakan
sekumpulan peristiwa sejarah yang dapat dipakai untuk memberikan
keterangan-keterangan terhadap lembaran-lembaran al-Qur’an dan memberinya
konteks dalam memahami perintah-Nya. Sudah tentu bahan-bahan sejarah ini hanya
melingkupi peristiwa-peristiwa pada masa al-Qur’an masih turun.

 

            Adapun
pengertian tasawwuf secara istilah, para ulama telah mendefinisikan sebagai
berikut :

??? ??????
??? ??????? ????? ???????? ??? ???? ????? ( ?????? ??? ???? ?? ????? ?????
?????? ?????? ??????? ?????? ?????? ??????? ???? ??????? ???????(

Menurut Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari, tasawwuf
ialah ilmu yang mengajarkan cara untuk mensucikan diri, mensucikan akhlak,
dengan memberdayakan aspek lahiriyah dan batiniyah untuk mencapatkan kebahagiaan
yang abadi7.

???? ???
????????? ?????? ?????? ???????? ???? ???? ????? ??? ??? ?? ???? ?????? ???????
????? ????? ?????? ? 22 ( ?????? ??????? ?? ??? ??? ???? ?? ??? ??? (

Imam Junaid Al-Baghdadi berkata di dalam kitab
An-Nusroh An-Nabawiyyah karangan syaikh Musthofa Al-Madani halaman 22: “Tasawuf
adalah hidup dengan seluruh aspek sunni yang disyariatkan agama dan
meninggalkan seluruh aspek kehidupan yang hina ”

???? ??????
??? ????? ??????? ???? ???? ????? ??? ??? ?? ???? ??? ??????? ????? ???? ??? ?
93(?????? ????? ????? ??? ???????? ????? ?????? ????????).

Abu Hasan As-Syadzili berkata sebagaimana
tercantum dalam kitab Nurut Tahqiq karangan syaikh Hamid Shagar halaman
93, “Tasawuf adalah melatih diri secara ubudiah untuk mengembalikannya
kepada hukum-hukum ketuhanan”.

            Dengan
melihat beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan ungkapan yang singkat
dan padat mencakup  dua unsur dimana keduanya
membentuk satu kesatuan yang saling menunjang dalam mendefinisikan tasawuf yang
pertama adalah cara dan yang kedua adalah tujuan. Cara,
diantaranya melaksanakan berbagai rangkaian peribadatan, latihan-latihan
rohani  seperti zuhud.  Sedangkan tujuannya ialah mendekatkan diri
kepada sang maha pencipta untuk mencapai kepada puncaknya yaitu penyaksian
(masyadah).

 

 

 

B.     Sejarah dan perkembangan tasawwuf.

            Junaid
Al- Baghdadi menyimpulkan bahwa tasawuf adalah memberikan hati dari apa yang
mengganggu perasaan kebanyakan mahluk, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita
sebagai manusia, menjauhkan segala seruan dari hawa nafsu, mendekatkan sifat
suci kerohanian dan bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, menaburkan nasihat
kepada semua umat manusia, memegang teguh janji dengan Allah dalam hal hakikat
dan mengikuti contoh Rasulullah dalam hal syariat8. Maka seiring dengan berjalannya waktu dan
berputarnya zaman tasawwuf telah mengalami perkembangannya dari zaman ke zaman
sebagai berikut:

a.       Fase Askestisme (zuhud). Berkembang pada
abad kedua Hijriah, sikap semacam ini dipandang pengantar kemunculan tasawuf
diman setiap individu dari kalangan muslim memusatkan dirinya pada ibadah dan
pendekatan diri pada Allah SWT, mereka tidak mementingkan kenikmatan duniawi
dan kemudian berpusat pada kenikmatan akherat, Tokoh yang populer pada fase ini
adalah hasan Al Basri (110 H) dan Rabiah Al Adawiyah (185 H) keduanya dalam
sejarah disebuth seorang zahid.

b.      Fase Akhlaki. Pada fase ini tasawuf
berkembang pada abad ketiga Hijriah, dimana para sufi mulai ekspansi pada
wilayah prilaku dan moral manusia. Pada saat manusia ketika itu berada
ditengah-tengah terjadinya dekadensi moral yang cukup akut, sehingga dari sini
tasawuf mulai berkembang dengan pesat sebagai ilmu moral keagamaan dan mendapat
respon yang baik dari masyarakat islam, dari sini kemudian nampaklah bahwa
ajaran tasawuf semakin sederhana dan mudah dipraktekkan dengan standar akhlak.

c.       Fase Al-Hallaj. 1 abad kemudian, muncul
tasawuf jenis lain yang lebih ekslusif dan fenomental yang  diwakili oleh al-Hallaj,  beliau 
mengajarkan tentang  kebersatuan
manusia dengan Tuhan Konsep yang dibawanya adalah wahdatul wujud (bersatu
dengan wujud yang satu). Dari konsep ini kemudian Al-Hallaj diputuskan bersalah
dan harus dihukum mati, untuk sebuah konsistensi paham tasawufnya, Dimana
masyarakat islam masih sangat indentik dengan jenis tasawif aklaki, kemudian
al- Hallaj dianggap membahayakan stabilitas umat.

d.      Fase Tasawuf Moderat. Kemunculan tasawuf
pada fase ini, muncul sekitar abad kelima hijriyah dengan seorang  tokohnya 
yaitu  Imam  Ghazali, 
yang  sepenuhnya  hanya 
menerima tasawuf yang  berdasarkan
al-Quran dan Al-Hadist, serta menekankan kembali askestisme. Al-Ghazali telah
berhasil menempatkan prinsip-prinsip tawawuf yang moderat, akibat pengaruh
kepribadian iman al-Ghazali yang begitu besar, maka pengaruh  tasawuf 
dengan  dasar  moderat 
ini  telah  meluas 
hampir  keseluruh pelosok dunia
islam, lalu  mulailah bermunculan para tokoh
sufi yang kemudian mengembangkan 
tarekat  tertentu  untuk 
murid-murid  mereka,  seperti 
Sayyid Ahmad Ar-Rijai dan Sayyed Abdul Qadir Jaelani.

e.       Fase Tasawuf Falsafi. Pada fase ini tasawuf
mulai dipadukan dengan filsafat yang muncul pada abad ke 6 Hijriah, tokoh yang
muncul Syuhrowardi al Maqtul (549 H), Syek Akbar Mulyadin Ibn Araby (638 H) dan
Ibn faridh (632 H) mereka memcoba menggabungkan pola pikir tasawuf yang akhlaki
dan askestisme dengan filsafat yunani khususnya neo-Platonisme. Teori –teori yang
mendalam khususnya mengenai jiwa, moral, ilmu tentang wijud menjadi hal yang
urgensi dalam prinsip berfikir mereka9.

 

C.    Manfaat dari mempelajari tasawwuf.

            Harus
diakui kebanyakan kita umat Islam seringkali menempuh cara beragama yang
cenderung formal syar’i dan sekedar memenuhi tuntutan kewajiban. Artinya, kita
beribadah dan beramal tidak lebih hanya sekedar gugur kewajiban sebagai seorang
muslim, sehingga beragama kita cenderung kering dan nyaris kehilangan makna.
Tasawuf akan membasahi keringnya nilai ibadah atau cara beragama kita dengan
air kesejukan, ketentraman, kedamaian, dan kedalaman spiritual sehingga sarat
dengan makna dan dapat meluruskan cara kita memandang kehidupan dunia ini.

            Adapun
manfaat tasawuf yang dapat diperoleh, antara lain sebagai berikut:

1.   
Membersihkan hati dalam berinteraksi dengan Allah SWT.

     Interaksi
manusia dengan Allah dalam bentuk ibadah tidak akan mencapai sasaran jika ia
lupa terhadap-Nya dan tidak disertai dengan kebersihan hati. Sementara itu,
esensi tasawuf adalah tazkiyah an-nafs yang artinya membersihkan jiwa dari
kotoran-kotoran. Dengan tasawuf, hati seseorang menjadi bersih sehingga dalam
berinteraksi kepada Allah akan menemukan kedamaian hati dan ketenangan jiwa.

 

2.   
Membersihkan diri dari pengaruh materi

     Melalui
tasawuf, kecintaan seseorang yang begitu besar terhadap materi atau urusan
duniawi lainnya akan dibatasi. Memiliki harta benda itu tidak semata-mata untuk
memenuhi nafsu, tetapi lebih mendekatkan diri kepada Allah.

 

3.   
Menerangi jiwa dari kegelapan

     Penyakit
resah, gelisah, patah hati, cemas dan serakah dapat disembuhkan dengan ajaran
agama, khususnya yang berkaitan dengan olah jiwa manusia, yaitu tasawuf dimana
ketenteraman batin atau jiwa yang menjadi sasarannya.

     Demikian
pula sifat-sifat buruk dalam diri manusia seperti hasad, takabur, bangga diri,
dan riya’ tidak dapat hilang dari diri seseorang tanpa mempelajari cara-cara
menghilangkannya dari petunjuk kitab suci Al-qur’an maupun hadist melalui
pendekatan tasawuf.

 

4.   
Memperteguh dan menyuburkan keyakinan agama

     Keteguhan
hati tidak dapat dicapai tanpa adanya siraman jiwa. Kekuatan umat islam bukan
hanya karena kekuatan fisik dan senjata, melainkan karena kekuatan mental dan
spiritualnya. Keruntuhan umat islam pada masa kejayaannya bukan karena akibat
musuh semata, tetapi kehidupan umat islam pada waktu itu yang dihinggapi oleh
meterialisme dan mengabaikan nilai-nilai mental atau spiritual. Banyak manusia
yang tenggelam dalam menggapai kebahagiaan duniawi yang serba materi dan tidak
lagi mempedulikan masalah spiritual. Pada akhirnya paham-paham tersebut membawa
kehampaan jiwa dan menggoyahkan sendi-sendi keimanan. Jika amalan tasawuf
diamalkan oleh seorang muslim, ia akan bertambah teguh keimanannya dalam
memperjuangkan agama Islam.

 

5.   
Mempertinggi akhlak manusia

     Jika
hati seseorang suci, bersih serta selalu disinari oleh ajaran-ajaran Allah dan
Rasul-Nya maka akhlaknya pun baik. Hal ini sejalan dengan ajaran tasawuf yang
menuntut manusia untuk menjadi muslim yang memiliki akhlak mulia dan dapat
menghilangkan akhlak tercela. Aspek moral adalah aspek yang terpenting dalam
kehidupan manusia. Apabila manusia tidak memilikinya, turunlah martabatnya dari
manusia menjadi binatang. Dalam akidah, jika seseorang melanggar keimanan ia
akan dihukum kafir. Di dalam fiqh, apabila seseorang melanggar hokum dianggap
fasik atau zindik. Adapun dalam akhlak, apabila seseorang melanggar ketentuan,
maka dinilai telah berlaku tidak bermoral10.

 

            Oleh
karenanya, mempelajari dan mengamalkan tasawuf sangat tepat bagi kaum muslim
karena dapat mempertinggi akhlak, baik dalam kaitan interaksi antara manusia
dan Tuhan (hablum minallah), maupun interaksi antara sesama manusia (hablum
minannas).

.          

KESIMPULAN

            Dari
sekian banyak pendekatan studi Islam, diantaranya adalah bagaimana dimensi
tasawwuf berperan dalam memandang Islam sehingga terbentuklah sebuah golongan
yang menamakan dirinya dengan istilah sufi. Telah banyak dikemukakan definisi
tentang tasawuf. Meskipun demikian kita bisa menarik kesimpulan bahwa tasawuf
adalah upaya atau jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui proses
dan cara-cara tertentu agar mendapatkan kebahagian batin sehingga menghiasi
diri dengan akhlaqul karimah. Sedangkan sebutan bagi orang yang bertasawuf adalah
seorang sufi.

            Mempelajari
tasawuf memiliki banyak manfaat diantaranya di jaman modern saat ini dimana
teknologi serba canggih dan materi yang melimpah ternyata justru membuat
manusia mengalami penurunan spiritualisme dan lebih mementingkan dunia. Tasawuf
dapat menyejukan hati, menentramkan jiwa dan menemukan makna hidup yang
sesungguhnya ditengah pergumulan hidup sehari-hari.

            Buah
dari tasawuf adalah akhlak yang mulia dan peningkatan iman sehingga kita dapat
lebih dekat dengan Allah SWT dan dapat menyeimbangkan kehidupan dunia dan
akhirat.       

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Kalabadzi, At-Ta’arruf  li Madzhabi ahli Tashawwuf, Kairo:
Al-Maktabah Al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1969.

Al-Maghriby, Ibnu Khaldun. Muqaddimah,
Beirut: Dârul Qalam, cetakan ke-5, 1983.

Al-Qusyairi, Abdul Malik. Ar-Risalah
Al-Qusyairiyyah, Kairo : Darul Ma’arif.

At-Taftazani, Abul Wafa. Madkhal ila
Tasawwuf Al-Islami, Kairo: Daruts Tsaqafah, cetakan ke-3.

Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme
dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

______________. Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya, Jakarta: Universitas Indonesia Press, cetakan ke-5.

http://ilmutuhan.blogspot.co.id/2011/02/pendekatan-studi-islam-melalui-tasawuf.html

1Mahasiswa pasca
sarjana prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung
cohort 2017.

2Dosen Sejarah
dan kebudayaan Islam pasca sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

3 Ibnu Khaldun al-Maghriby, Muqaddimah, Beirut: Dârul Qalam, cetakan ke-5, 1983, hlm. 75.

4 Harun
Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jakarta: Universitas
Indonesia Press, cetakan ke-5, 2012, hlm. 68

5 Harun
Nasution, falsafat dan mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang,
1978, hal. 11.

6 Abul Wafa
At-Taftazani, Madkhal ila tasawwuf al-Islami, Kairo: Daruts Tsaqafah,
cetakan ke-3, hal. 21.

7 Abdul Malik
Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Kairo : Darul Ma’arif, hal. 7.

8 Al-Kalabadzi, At-Ta’arruf  li Madzhabi ahli Tashawwuf, Kairo: Al-Maktabah
Al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1969, h. 28.

9
http://ilmutuhan.blogspot.co.id/2011/02/pendekatan-studi-islam-melalui-tasawuf.html

10 Abul Wafa
At-Taftazani, op.cit, hal. 45.

x

Hi!
I'm Joan!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out