ESSAY diwaktu yang akan datang. Akuntansi biaya

ESSAY PERHITUNGAN BIAYA DENGAN METODE ACTIVITY BASED COSTING PADA AKUNTANSI
BIAYA

Akuntansi
secara umum identik dengan segala hal tentang angka-angka yang dicatat pada
laporan keuangan berkaitan dengan kondisi ekonomi atau keuangan suata
organisasi. Menurut Financial Accounting
Standards Board (FASB), badan yang menerbitkan pernyataan dan
prinsip-prinsip akuntansi yang dipakai di seluruh dunia, akuntansi adalah
kegiatan jasa yang berfungsi menyediakan informasi kuantitatif yang kemudian
digunakan untuk pengambilan keputusan ekonomi. Di Indonesia pengertian
Akuntansi juga diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan  Republik Indonesia No. 476 KMK 01 tahun 1991,
dimana dalam aturan tersebut Akuntansi didefinisikan sebagai  suatu proses pengumpulan, penganalisaan,
pengklasifikasian, pencatatan, peringkasan dan pelaporan terhadap suatu
transaksi keuangan dari kesatuan ekonomi untuk menyediakan sebuah informasi
keuangan bagi yang memerlukan informasi tersebut yang berguna dalam pengambilan
keputusan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 Dalam bidang Akuntansi terdapat salah satu
bagian yang dikenal sebagai Akuntansi Biaya, dimana bagian tersebut
menitikberatkan pada proses pencatatan dan monitoring seluruh aktifitas biaya
serta menyajikan informasi tersebut kedalam suatu laporan atau dengan kata lain
Akuntansi Biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat
manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta
menyajikannya informasi biaya dalam bentuk laporan biaya. Selain itu menurut pendapat
ahli ekonomi, salah satunya Carter dan Usry, Akuntansi Biaya merupakan penghitungan
biaya dengan tujuan untuk aktivitas perencanaan dan  pengendalian, perbaikkan kualitas dan
efisiensi, serta pembuatan keputusan yang bersifat rutin maupun strategis.
Penjelasan ahli tersebut menunjukkan bahwa akuntansi biaya sangat dibutuhkan
untuk pertanggungjawaban dengan tujuan membuat perencanaan dan pengambilan
keputusan dari  hasil laporan masa
sebelumnya sebagai acuan untuk kebijakan diwaktu yang akan datang.

Akuntansi
biaya pada masa lalu dianggap sebagai suatu cara penghitungan nilai persediaan
yang dilaporkan di neraca dan harga pokok penjualan yang disajikan dalam
laporan laba rugi. Cara pandang tersebut membatasi luasnya cakupan informasi
yang dibutuhkan manajer dalam pengambilan keputusan seperti yang disampaikan
sebelumnya. Namun cakupan informasi yang dibutuhkan manajer dalam pengambilan
keputusan tersebut memang berbeda dengan informasi yang diberikan kepada pihak
eksternal. Dalam berbagai sumber seperti yang sudah disebutkan sebelumnya
terdapat beberapa fungsi dari akuntansi biaya, antara lainnya untuk melakukan
penentuan harga pokok produksi dan melakukan perencanaan serta pengendalian
biaya atau pengendalian tersebut dengan kata lain dapat berfungsi sebagai
pengawasan apabila terjadi penyimpangan dalam penggunaan biaya.

            Setelah sebelumnya membahas tentang apa
yang dimaksud dengan Akuntansi dan Akuntansi Biaya, selalu terdapat kata biaya
dalam setiap pengertian akuntansi biaya tersebut. Menurut Wikipedia, Biaya adalah
semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang
dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah
terjadi maupun yang akan terjadi. Biaya tersebut kemudian dibagi menjadi biaya
eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit yang dimaksud adalah biaya yang
dapat terlihat secara fisik seperti misalnya uang, sedangkan biaya implisit
merupakan biaya yang tidak terlihat secara langsung, misalnya penyusutan barang
modal. Selain pengertian tersebut, menurut pendapat ahli ekonomi lain, Mulyadi (2001;8),
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis 
yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau
yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Mulyadi juga melakukan
penggolongan dari biaya tersebut kedalam beberapa golongan, antara lain:

a.   
Menurut objek pengeluarannya, dimana penggolongan
ini termasuk penggolongan biaya paling sederhana karena hanya berdasarkan
penjelasan singkat mengenai suatu objek pengeluarannya, misalnya biaya
pengeluaran yang terkait dengan listrik disebut “biaya listrik”.

b.   
Menurut fungsi pokok dalam perusahaan biaya
dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok :

1.   
Biaya produksi, adalah semua biaya yang
berhubungan dengan fungsi produksi atau dengan kegiatan pengolahan bahan baku
menjadi produk jadi. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

2.   
Biaya pemasaran, yaitu semua biaya yang ada
dan terjadi dengan tujuan untuk melaksanakan kegiatan pemasaran dari suatu
produk, misalnya biaya iklan, biaya promosi, dan lainnya.

3.   
Biaya administrasi dan umum, yaitu biaya – biaya
yang ditujukan untuk mengkoordinasikan antara kegiatan-kegiatan produksi dan
pemasaran produk tersebut, misalnya gaji personalia.

c.   
Menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang
dibiayai. Penggolongan biaya ini dikelompokkan menjadi biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi
dimana penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang harus dibiayai,
dan biaya tidak langsung (indirect cost)
yaitu biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
Dalam hubungan dengan produk, biaya langsung tersebut seperti halnya biaya
tenaga kerja dan biaya bahan baku, sedangkan biaya tidak langsung contohnya
adalah biaya overhead pabrik.

d.   
Menurut perilaku dalam kaitannya dengan
perubahan volume kegiatan. Mulyadi mengelompokkan penggolongan ini menjadi
empat kelompok, antara lain:

1.   
Biaya tetap ( Fixed Cost ) yaitu biaya yang jumlahnya tetap tidak dipengaruhi
oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas dari suatu produk pada tingkat
tertentu, misalnya gaji direktur.

2.   
Biaya variable ( Variabel Cost ) adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding
dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas suatu produk, misalnya biaya
bahan baku , dan biaya tenaga kerja langsung.

3.   
Biaya semi variable adalah biaya yang
jumlahnya tidak terlalu terpengaruh namun berubah pada tingkat tertentu atau
perubahannya tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas
suatu produk, contohnya biaya listrik atas mesin yang digunakan.

4.   
Biaya semi tetap sama seperti biaya semi
variabel yang tetap pada tingkat tertentu namun berubah dengan jumlah yang
konstan ada volume kegiatan tertentu.

e.   
Menurut jangka waktu manfaatnya biaya
dikelompokkan menjadi dua antara lain biaya pengeluaran modal dan biaya
pengeluaran pendapatan. Biaya pengeluaran modal ( modal expenditure ) adalah  pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat
atau keuntungan pada periode akuntansi yang akan dating, sedangkan biaya
pengeluaran pendapatan ( revenue expenditure ) adalah pengeluaran yang akan
memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran itu terjadi.

Melihat
penjabaran biaya berdasarkan penggolongannya diatas, penulis mendefinisikan
biaya sebagai suatu pengeluaran atau pengorbanan yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan
dalam hal ekonomi untuk memperoleh sesuatu yang berguna pada masa yang akan datang.
Secara umum terdapat dua komponen klasifikasi biaya, yaitu biaya produksi dan
biaya pemasaran. Biaya produksi terdiri dari tiga kelompok yaitu biaya bahan
baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

            Biaya bahan baku langsung adalah
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu barang yang digunakan
sebagai bahan baku untuk kegiatan produksi, dimana biaya bahan baku tersebut
merupakan bagian dari harga pokok barang produksi tersebut. Biaya tenaga kerja
langsung merupakan biaya yang dikeluarkan karena pemakaian tenaga kerja untuk
mengolah bahan baku yang dijelaskan sebelumnya menjadi barang jadi. Biaya
tenaga kerja langsung ini biasanya dapat berupa gaji atau upah yang diberikan
kepada tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan pengolahan barang
tersebut. Biaya overhead pabrik adalah semua biaya-biaya produksi yang
dikeluarkan selain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
Biaya overhead ini bisa berupa biaya bahan baku tidak langsung seperti biaya
perolehan bahan baku yang berfungsi sebagai tambahan dan bukan bahan baku
utama, selain itu terdapat pula biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya
tidak langsung lainnya. Biaya-biaya tersebut biasanya merupakan biaya yang tidak
dibebankan secara langsung kepada produksi suatu barang. Biaya overhead pabrik
ini bisa masuk ke dalam golongan biaya tetap atau biaya variabel dan bisa juga
digolongkan menjadi biaya semi variabel.

            Setelah
membahas pengertian biaya dalam kaitannya dengan akuntansi biaya serta
pengklasifikasian biaya menurut beberapa penggolongan, selanjutnya adalah
pembahasan terkait cara penghitungan biaya dalam akuntansi biaya.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan fungsi akuntansi biaya yang
salah satunya bertujuan untuk menentukan harga pokok produksi, tentu dibutuhkan
perhitungan biaya yang tepat sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Penghitungan
biaya dalam akuntansi biaya dapat dilakukan dalam beberapa cara. Secara umum
perhitungan biaya dikelompokkan menjadi dua, dengan menggunakan metode
tradisional dan dengan menggunakan metode Activity
Based Costing atau metode perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.
Perhitungan biaya dengan menggunakan metode tradisional biasanya disebut juga
dengan sistem berbasis unit ( Unit Based
System ). Perhitungan biaya dengan menggunakan metode tradisional didasarkan
pada asumsi bahwa produk individual menyebabkan timbulnya biaya. Dengan asumsi
seperti yang disebutkan tersebut, sistem tradisional membebankan biaya ke
produk berdasarkan konsumsi biaya yang berhubungan dengan jumlah unit yang
diproduksi. Apabila kita menghitung biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga
kerja langsung, hal ini tidak akan menjadi masalah jika menggunakan metode
tradisional. Namun akan menjadi masalah jika kita menghitung biaya overhead
karena dalam metode tradisional, biaya overhead diasumsikan proporsional dengan
dengan jumlah unit yang diproduksi. Akan tetapi pada kenyataannya banyak sumber
daya-sumber data atau biaya – biaya yang timbul dari aktivitas – aktivitas yang
tidak berhubungan dengan tingkat volume produksi. Hal tersebut menyebabkan metode
tradisional tidak lagi sesuai dengan kondisi perusahaan yang semakin berkembang
dari waktu ke waktu, apalagi banyak perusahaan dituntut untuk menyelesaikan
pesanan sesuai dengan permintaan pelanggan yang pasti berbeda antara pelanggan
yang satu dengan yang lain. Selain itu metode tradisional tidak dapat
menunjukkan berapa biaya yang sesungguhnya dikonsumsi dalam tiap pesanan yang
dikerjakan oleh perusahaan. Hal tersebut akan sangat merugikan perusahaan
khususnya perusahaan yang mengerjakan berbagai jenis pesanan dari pelanggan
yang berbeda-beda. Alokasi biaya dengan metode ini mengakibatkan adanya
penyimpangan karena tiap pesanan atau produk tidak mengkonsumsi biaya overhead
secara proporsional terhadap unit yang diproduksi seperti yang umumnya dicatat
pada perhitungan biaya dengan metode tradisional. Kondisi seperti ini
mengakibatkan kekeliruan dalam perhitungan harga pokok produksi yang berimbas
pada strategi penetapan harga jual, keputusan manajerial yang tepat, alokasi
sumber daya yang tidak efektif, hilangnya keunggulan kompetitif, bahkan hingga
tidak dapat dilakukannya pertanggungjawaban anggaran.

            Adanya
kelemahan terkait ketidaktepatan dalam penggunaan informasi biaya yang
digunakan dalam metode atau sistem biaya tradisional tersebut, menyebabkan
banyak perusahan yang beralih menggunakan metode perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas atau Activity Based Costing. Perhitungan
biaya dengan menggunakan metode Activity
Base Costing tersebut tidak lagi menggunakan dasar volume produksi namun
dengan berdasarkan aktivitas pada tingkat tertentu. Hal tersebut akan membantu
perusahaan dalam mengalokasikan biaya overhead yang lebih akurat. Pengertian
metode perhitungan biaya berdasarkan aktivitas menurut Mulyadi (2003:40) adalah
sistem informasi biaya yang berorientasi pada penyediaan informasi lengkap
tentang aktivitas untuk memungkinkan personel perusahaan melakukan pengelolaan
terhadap aktivitas. Dimana sistem informasi ini menggunakan aktivitas sebagai
basis serta pengurangan biaya dan penentuan secara akurat biaya produk atau
jasa sebagai tujuan. Sistem informasi ini diterapkan dalam beberapa perusahaan
manufaktur, jasa, dan dagang. Berdasarkan pengertian diatas penulis dapat
menyimpulkan bahwa metode Activity Based
Costing adalah pendekatan sistem akuntansi yang memfokuskan pada aktivitas
yang dilakukan dalam memproduksi suatu barang. Tujuan dari penggunaan metode Activity Based Costing adalah untuk
menglokasikan biaya ke transaksi dari aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu departemen
dan kemudian mengalokasikan biaya tersebut secara tepat ke produk sesuai dengan
pemakaian aktivitas pada setiap produk.

Tingkat Produk
–         
Aktivitas
–         
Biaya
–         
Pemicu Aktivitas

Tingkat Pabrik
–         
Aktivitas
–         
Biaya
–         
Pemicu Aktivitas

            Dalam metode perhitungan biaya berdasarkan aktivitas,
dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya overhead disebut sebagai
penggerak atau pemicu (driver). Pemicu tersebut dibagi menjadi dua, yaitu
pemicu sumber daya atau resource driver
dan pemicu aktivitas atau activity driver.
Pemicu sumber daya adalah dasar yang digunakan untuk meengalokasikan biaya
dari suatu seumber daya ke berbagai aktivitas berbeda yang berkaitan dengan
sumber daya tersebut. Misalnya saja, ketika sistem biaya tradisional mengalokasikan
biaya berdasarkan jumlah tenaga kerja maka jumlah tenaga kerja disebut sebagai
dasar alokasi dalam konteks tersebut. Jika pada metode perhitungan biaya
berdasarkan aktivitas mengalokasikan biaya dari suatu sumber ke beberapa
aktivitas berdasarkan jumlah karyawan, maka jumlah karyawan disebut sebagai
pemicu sumber daya. Pemicu aktivitas adalah dasar yang digunakan untuk
mengalokasikan biaya dari suatu aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek
biaya final lainnya. Metode Activity
Based Costing mengakui aktivitas, biaya aktivitas,dan pemicu aktivitas pada
tingkatan agregasi yang berbeda dalam satu lingkungan produksi, baik pada
tingkat unit, tingkat batch, tingkat produk, hingga tingkat pabrik.

Tingkat Batch
–         
Aktivitas
–         
Biaya
–         
Pemicu Aktivitas

Tingkat Unit
–         
Aktivitas
–         
Biaya
–         
Pemicu Aktivitas

 

 

 

 

 

 

 

Dalam pengaplikasian sistem Activity Based Costing  terdapat beberapa tahapan yaitu :

1.   
Melakukan
identifikasi biaya sumber dan aktivitas. Identifikasi tersebut dapat dilakukan
dengan cara membedakan aktivitas berdasarkan cara aktivitas tersebut
mengkonsumsi sumber daya. Cara ini mengelompokkan aktivitas menjadi empat
level, antara lain:

a.   
Aktivitas
level unit adalah aktivitas yang dilakukan dalam rangka menghasilkan satu unit
produk. Contoh aktivitas pada level ini adalah penggunaan bahan baku dan
penggunaan tenaga kerja langsung.

b.   
Aktivitas
level batch merupakan aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan suatu batch
atau grup. Pengelompokkan suatu unit produk menjadi satu grup tersebut apabila produk
tersebut dihasilkan dalam satu waktu secara bersamaan. Contoh aktivitas ini
adalah penanganan bahan, pengesetan mesin-mesin produksi.

c.   
Aktivitas
level produk adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produksi suatu
produk secara spesifik. Contohnya adalah desain produk, pengembangan produk,
dan pembuatan prototipe.

d.   
Aktivitas
level pabrik adalah aktivitas yang mendukung kegiatan produksi secara umum.
Contoh aktivitas ini adalah perawatan bangunan, penyusutan bangunan, dan
keamanan pabrik.

2.   
Mengalokasikan
biaya sumber daya ke aktivitas. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya salah
satu pemicu adalah sumber daya atau resource
driver. Pemicu sumber daya tersebut digunakan untuk membebankan biaya
sumber daya ke aktivitas. Pemicu sumber daya tersebut biasanya meliputi meter
untuk utilitas, jam mesin untuk aktivitas menjalankan mesin, dan jumlah tenaga
kerja untuk kaitannya dengan penggajian.

3.   
Mengalokasikan
biaya ke dalam objek biaya. Setelah aktivitas tersebut diketahui hal yang perlu
diukur selanjutnya adalah biaya aktivitas per unit. Hal tersebut dihitung dengan cara
mengukur biaya per unit untuk output yang diproduksi oleh aktivitas tersebut.
Pemicu aktivitas digunakan untuk membebankan biaya aktivitas ke objek biaya.
Pemicu aktivitas ini biasanya seperti jumlah pesanan pembelian, jumlah laporan,
atau jumlah pembayaran.

            Berdasarkan
penjelasan tahap-tahap diatas di atas dapat terlihat perbedaan umum antara
metode Activity Based Costing(ABC) dengan sistem tradisional. Pada metode
ABC terdapat pemicu atau driver yang menjadi dasar alokasi biaya. Selain itu
terdapat beberapa perbedaan mendasar lain antara kedua metode ini yaitu pada
metode ABC terdapat banyaknya tempat penampungan biaya overhead dengan dasar
alokasi atau pemicu yang lebih banyak dan berbeda di setiap aktivitas bukan
lagi berdasarkan volume kegiatannya. Dengan demikian perusahaan yang
menggunakan metode ABC ini akan mendapat beberapa manfaat, antara lain:

1.   
Dapat
memberikan informasi biaya yang akurat saat perusahaan akan menentukan harga pokok
produksi dari suatu produk.

2.   
Informasi
lebih akurat yang didapatkan dengan menggunakan metode ini dapat mengurangi
kemungkinan pengambilan keputusan yang salah atau dengan kata lain dapat
meningkatkan mutu keputusan yang diambil oleh manajemen.

3.   
Fokus
metode ABC dalam mengkonsumsi sumber daya tidak langsung, dapat membantu
manajemen dalam mengelola aktivitas overhead serta memudahkan dalam menentukan estimasi
biaya overhead.

Dari beberapa manfaat diatas dapat
dilihat bahwa metode ABC ini memiliki beberapa keunggulan atau kelebihan,
antara lain:

1.   
Memudahkan
penentuan biaya produk atau harga pokok produksi suatu produk, baik pada
perusahaan manufaktur ataupun pada perusahaan jasa.

2.   
Fokus
perhatian pada aktivitias menyebabkan semakin banya biaya tidak langsung yang
dapat ditelusuri.

3.   
Fokus
dan keakuratan tersebut dapat membuat perusahaan mengurangi biaya serta
meningkatkan efisiensi.

4.   
Dengan
adanya estimasi biaya yang tepat tersebut, manajemen akan lebih mudah dalam
mengambil keputusan dan melakukan pengendalian terhadap biaya yang sudah
dianggarkan serta dikeluarkan.

Walaupun metode ABC dikatakan lebih baik
dari metode tradisional, namun setiap metode tentu akan memiliki batasan dan
kelemahan dalam peerhitungannya. Kelemahan dalam penggunaan metode ABC antara lain:

a.   
Tidak
semua biaya memiliki pemicu konsumsi sumber daya yang sesuai.

b.   
Adanya
penghilangan biaya karena beberapa biaya dimasukkan sebagai biaya periode dalam
pelaporan akuntansi yang berlaku di Indonesia.

c.   
Besarnya
biaya aplikasi metode ABC, serta lamanya proses perhitungan dan implementasi
metode tersebut.

Berdasarkan penjelasan di atas penulis
menyimpulkan bahwa metode Activity Based Costing adalah perhitungan biaya yang
didasarkan pada aktivitas yang ada di perusahaan. Dengan perhitungan yang lebih
kompleks metode ini dapat memberikan hasil perhitungan biaya yang lebih akurat
jika dibandingkan dengan metode tradisional. Akan tetapi hal tersebut juga
menyebabkan metode ini menjadi lebih membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang
besar pada pengimplementasiannya. Semua perusahaan pada dasarnya cocok dalam
menggunakan metode Activity Based Costing,
namun penulis melihat perusahaan yang lebih cocok dalam menggunakan metode
ini adalah perusahaan manufaktur yang memiliki adanya biaya bersama antar
departemen produksi, dimana perusahaan tersebut juga memiliki tingkat
pertumbuhan produksi yang tinggi serta memiliki banyak pesaing usaha sehingga
menuntut adanya efisiensi biaya.

 

x

Hi!
I'm Joan!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out